Rabu, 09 April 2014

Memberi



Untuk memiliki mental suka memberi mungkin mudah bagi sebagian orang, tapi mungkin juga sulit untuk yang lain. Karena itu saya mengajak teman-teman di sini untuk membaca artikel berikut—sebagai gambaran tentang kekuatan memberi: 

Apa yang Anda pikirkan ketika ada kesempatan untuk memberi kepada orang lain? Dari artikel yang saya bagikan link-nya tadi, ada DUA hal mendasar yang perlu kita pahami untuk menjadi pribadi yang suka memberi.

Pertama. Jangan mengharap balasan saat memberi. Jangan berpikir orang akan mengingat jasa kita dan membalasnya saat kita perlu. Memberilah tanpa berharap bahwa suatu saat, orang-orang yang kita bantu itu, akan membalas kebaikan kita.

Dari sana kita juga akan tahu, apakah hati kita tulus/tidak, rela/tidak, saat memberi kepada orang lain.  Karena saat kita memberi dengan mengharap balasan, saat itu juga kita tahu bahwa kita tidak tulus. Apakah mau membalas atau tidak atas kebaikan yang kita berikan, adalah pilihan dan keputusan orang yang kita bantu. Ingat, ada kalimat bijak mengatakan, “Memberilah tanpa mengingat dan menerimalah tanpa melupakan”.

Kedua. Ketika memberi, yang menjadi fokus kita adalah untuk kebaikan orang tersebut, bukan keuntungan yang bisa kita dapat. Memberilah tanpa melihat, apa yg bisa kita dapat dari tindakan tersebut. Pujian, reputasi bagus, dan lainnya, tidak usah dipikirkan.

Saya kira, ketika kita memikirkan keuntungan-keuntungan yang mungkin kita dapat dengan memberi, kita sudah ‘mengotori’ motivasi dan hati kita. Apalagi jika keuntungan dan balasan tidak kita dapat, maka kita bisa menjadi kecewa, marah, dan kehilangan makna dari member itu sendiri.

Sebaliknya, orang yang berjiwa besar berpikir, “Membantu adalah membantu, tidak perlu ada embel-embel di belakangnya.” Memang untuk bisa memberi tanpa embel-embel di belakang tidaklah mudah. Maka kita perlu membiasakan diri memberi dari hal kecil, sehingga bisa punya mental memberi tanpa berharap imbalan.

Sebagai penutup, satu pertanyaan untuk kita semua: Siapkah kita menjadi pribadi yang suka memberi tanpa mengharap kembali…?


Kekuatan Memberi



Alkisah, ada seorang saudagar yang terkenal baik hati dan sering memberi bantuan kepada sanak saudara atau teman yang datang meminta tolong kepadanya. Suatu hari, si saudagar sedang mengalami kesulitan, seakan menghadapi jalan buntu dan merasa perlu bantuan orang lain.

Maka dia pun mendatangi teman dan saudara yang dulu pernah dibantunya. Tetapi ternyata, tidak ada satupun dari mereka yang tergerak untuk membantu. Bahkan saat dia bercerita mengenai masalah yang sedang dihadapinya, mereka cenderung cuek, tidak peduli, dan menganggap itu bukanlah urusan mereka.

Sesampai di rumah, si saudagar merasa terpukul, kecewa, dan marah. Dia tidak habis berpikir, bagaimana mereka yang dulu merengek mohon bantuan, dan telah dibantunya, sungguh tidak tahu bersyukur dan berterimakasih. Saat dia dalam kesulitan dan membutuhkan bantuan, mereka memperlakukannya seperti itu. Dan semakin dipikir, dia semakin kecewa dan marah. Keadaan ini sangat mengganggunya, dia menjadi sulit tidur, gampang marah, dan tidak bisa berpikir secara jernih.

Setelah berhari-hari si saudagar menjalani hidup yang tidak bahagia itu, dia memutuskan untuk pergi ke orang bijak. Setelah mendengar keluhan si saudagar, si orang bijak berkata, "Anak muda, paman tahu kalau kamu orang yang baik, suka membantu orang lain, tetapi saat ini kebaikan hatimu malah berakibat buruk. Kamu merasa tidak bahagia, kecewa, dan marah. Kenapa bisa begitu?

Menurut paman, pertama, kamu telah salah menilai orang lain. Harapan kamu adalah orang yang telah kamu bantu akan membalas budi, dan kenyataan tidak begitu, maka yang salah adalah kamu sendiri. Kedua, jika kamu ingin mendapat imbalan atas bantuanmu, saat membantu, kamu harusnya memberi pelajaran kepada mereka bagaimana caranya berterima kasih. Ketiga, jika kamu tidak ingin dikecewakan orang lain, maka berilah bantuan tanpa harapan atas imbalan apapun. Karena perbuatan baik yang telah kamu lakukan janganlah kehilangan makna dan dikotori dengan keinginan untuk dibalas yang bila tidak kesampaian, akan menimbulkan kecewa, marah, dan kemudian benci di hatimu.

Netter yang luar biasa!

Saat orang lain memohon bantuan kita dan kita menolong mereka, sebaliknya saat kita sedang mengalami kesulitan, kita mengharap balasan atas bantuan yang pernah kita berikan adalah hal yang wajar terjadi di kehidupan ini.

Namun umumnya orang yang berjiwa besar berpikir: membantu adalah membantu, tidak perlu ada embel-embel di belakangnya. Jika kita salah menilai orang yang kita bantu, introspeksi dan benahi diri sendiri. Masalah yang sedang kita hadapi adalah tanggung jawab kita sendiri. Sehingga kita tidak perlu marah, kecewa dan menyalahkan orang lain yang tidak mau membantu kita.

Salam sukses, luar biasa!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar