Rabu, 09 April 2014

URGENSI PEMBELAJARAN TERSTRUKTUR
BAGI ANAK AUTIS
OLeh :   
*)Prof.Dr.dr.Drs. KH M.kemal, M. Pd.Lc
          Anak Autis (Autism Child) adalah keadaan anak yang mengalami gangguan autisme. Istilah autisme itu sendiri berasal dari kata “Autos”, berarti diri sendiri dan “Isme” yaitu paham.  Dengan demikian secara etimologis “autisme” berarti paham yang hanya tertarik pada dirinya sendiri.  Autism atau autisme yaitu nama gangguan perkembangan komunikasi sosial, perilaku pada anak (Leo Kanner & Asperger, 1943).  Sedangkan anak yang mengalami gangguan autisme dikenal dengan sebutan Autist. Anak autis juga dalam kepustakaan kedokteran dan psikiologi   dikenal dengan sebutan  Children With ASD (Autism Spectrum Disorder). Untuk keperluan tulisan sederhana ini penulis menggunakan istilah ”anak autis” untuk anak yang mengalami gangguan autisme. Artikel ini secara umum akan menyajikan sekilas informasi untuk pembaca yang budiman mengenai pentingnya pembelajaran terstruktur bagi anak autis. Materi yang tersaji  dikemas dari berbagai sumber bacaan yang relevan dan berdasarkan pengalaman penulis sendiri ketika mengikuti kegiatan Special Education Needs Tacher Course  di Indocare Pantai Indah Kapuk Jakarta dan  Rainbow Centre Singapura. Pengalaman penulis selama menjadi fasilitator dalam diklat layanan pembelajaran bagi anak autis dan beberapa kali melakukan observasi ke pusat layanan anak autis turut membentuk keyakinan akan pentingnya layanan pembelajaran terstruktur bagi anak autis.
            Bagaimana gambaran pembelajaran terstruktur bagi anak autis itu?  Jawaban dari pertanyaan ini tidak terlepas dari karakteristik yang melekat pada anak autis itu sendiri. Para dokter dan psikolog mengidentifikasikan terdapatnya tiga ketidak mampuan yang berbeda pada penyandang autisme yang merupakan kelainan spektrum autisma, yaitu 1) ketidakmampuan dalam berinteraksi secara sosial (social interaction), hambatan berkomunkikasi (social communication), dan keterlambatan kemampuan bahasa dan kognitif. Gejala autime biasanya mulai dapat diketahui sebelum anak berusia 3 tahun. Diperkirakan 75 % - 80 % penyandang autime mempunyai retardasi mental, sedangkan 2o % dari mereka mempunyai kemampuan yang cukup tinggi untuk bidang-bidang tertentu (Savant).
            Pembelajaran untuk anak autis pada umumnya didasarkan pada prinsip-prinsip 1) terstruktur; 2) terpola; 3) terprogram; dan 4) konsisten.  Pembelajaran terstruktur dalam implementasinya mencakup keempat prinsip dimaksud. Strategi pembelajaran terstruktur bagi anak autis pada tataran praktis mengandung makna pemberian materi pengajaran dimulai dari bahan/akar materi yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh anak. Setelah kemampuan tahap satu dikuasai, baru dilanjutkan ke tahap berikutnya namun merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan dari tahap sebelumnya. Sekedar ilustrasi, apabila kompetensi yang harus dikuasai anak adalah mengerti dan memahami makna instruksi “ambil cangkir hijau” dalam rangkaian pembelajaran menolong diri sendiri (self help ), materi pertama yang mesti diperkenalkan kepada anak adalah pengertian kata “ambil”, lalu “ cangkir”, dan “hijau”.  Setelah anak mengenal  dan memahami kata demi kata,  tahap selanjutnya adalah mewujudkan instruksi “ ambil cangkir hijau” kedalam perbuatan konkrit. Dengan demikian, struktur pembelajaran bagi anak autis itu meliputi struktur waktu, struktur ruang, dan struktur kegiatan.
            Memperkenalkan sebuah konsep atau pengertian suatu objek kepada anak autis juga harus dimulai dari yang konkrit menuju ke yang abstrak secara bertahap terstruktur. Misalnya dalam hal memperkenalkan konsep  “cangkir”, maka yang harus pertama kali dikenalkan kepada anak adalah objek cangkir yang sesungguhnya. Apabila objek “cangkir” sudah dipahami anak, baru “photo cangkir”, selanjutnya “ gambar cangkir berwarna”, lalu “gambar cangkir hitam putih”, selanjutnya “line drawing cangkir di bawawnya dilengkapi dengan tulisan cangkir”. Tahapan yang paling abstrak dari rangkaian pemebelajaran ini adalah “tulisan cangkir” tanpa gambar sama sekali. Tahapan pengenalan konsep semacam ini sangat berguna untuk keperluan picture communication  terutama yang diperuntukkan bagi anak autis yang belum memiliki kemampuan berkomunikasi  verbal.
TAHAPAN PENGENALAN KONSEP DARI KONKRIT KE ABSTRAKpic grapik
               Di mana letak urgensi pembelajaran terstruktur bagi anak autis? Anak autis memiliki karakteristik berpikir visual konkrit. Selain itu anak autis juga memiliki keterbatasan berpikir divergen.Secara psikologis anak autis mudah cemas apabila dihadapkan pada situasi baru dan berubah-rubah. Karena anak autis lemah pada imajinasi, maka dalam melaksanakan suatu aktivitas atau menyelesaikan suatu tugas cenderung menggunakan satu cara (one way). Dalam kondisi keterbatasan semacam ini, pembelajaran terstruktur memberikan solusi untuk mengarahkan dan membimbing anak autis agar dapat tumbuh dan berkembang dalam menjalani kehidupan seperti halnya anak-anak yang normal lainnya. Pembelajaran terstruktur akan memudahkan anak autis untuk memahami lingkungannya, belajar melakukan aktivitas sesuai dengan tahapan yang konsisten dijalaninya.
             Pembelajaran terstruktur memiliki fungsi untuk membantu anak autis agar dapat mengikuti pembelajaran yang akomodatif terhadap keterbatasan yang dimiliki anak. Desain dan strategi pembelajaran terstruktur dalam implementasinya meliputi hal-hal sebagai berikut.
Struktur Fisik
Desain fisik ruangan belajar harus dibuat secara jelas. Kejelasan desain fisik memudahkan anak memahami kegunaan setiap area. Misalnya , kelas disetting kedalam 3 bagian, yaitu area learning togather, area free play, dan area task.
Rutinitas
Aktivitas rutin yang dijalani anak setiap hari berguna untuk membantu anak mengetahui tugas awal dan akhir tugas secara jelas sehingga anak terhindar dari kebingungan.
Jadwal Harian
Jadwal harian berguna untuk membantu anak memahami secara visual kegiatan apa yang akan dilakukan. Bentuk jadwal harian sebaiknya disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak.
Sistem Kerja Individual
Sistem kerja Individual perlu dilakukan agar anak lebih mudah memahami instruksi dari gurunya.
           Pada bagian akhir dari tulisan sederhana ini penulis sajikan sejumlah alasan yang menunjukkan pentingnya pembelajaran terstrukur bagi anak autis. Alasan-alasan dimaksud berada dalam lingkup physical structure dan visual structureStruktur fisik dikondisikan untuk mengorganisir lingkungan agar anak autis memahami aturan-aturan dan harapan-harapan di dalam lingkungannya. Berkomu`nikasi dengan anak autis perlu menggunakan bahasa yang terstruktur, karena bericara terstruktur merupakan bahasanya anak autis. Anak-anak autis pada dasarnya tergolong pelajar-pelajar dengan pemahaman visual yang baik. Oleh karena itu visual stracture yang merupakan bagian dari implementasi pembelajaran terstruktur perlu secara intensif digunakan untuk pengkondisian aktivitas dan berinteraksi dengan anak autis. Mari kita berikan layanan pembelajaran yang berkualitas kepada anak-anak autis dan anak berkebutuhan khusus lainnya sebagai salah satu wujud dari pendidikan berbasis keadilan sosial. Bagaimana caranya? Coba deh pembelajaran terstruktur.
Bahan Bacaan
Azwandi, Yosfan (2005). Mengenal dan Membantu Penyandang Autisme . Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.
Ari Mariani, Devi. Kecerdasan Berganda pada Penderita Autisme. Tersedia di http://www.parenting.co.id/article detail asp?catid=2&id=12&view.com ent=1
S. Ginanjar, Adriana (tanpa tahun). Penangan Terpadu Bagi Anak Autis
Rainbow Centre Training and  Consultancy (2009). Cours Hand Book-Special Education Needs Teacher Cours Autism Spectrum Dosirder. Singapore: Rainbow Centre
-------------- (2002). Helping Our Children Reach Their Fullest Potential. Singapore: Reinbow Centre

Tidak ada komentar:

Posting Komentar